Tampilkan postingan dengan label hidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidayah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2009

Standard Operational Procedure ( S O P ) Menghadapi Segala Macam Masalah Kehidupan

1. Bangun kepasrahan di awal. Terjemahkan kepasrahan yang dimaksud seluas-luasnya; rasa malu diketahui tetangga; kemungkinan hilang aset; kemungkinan menghilangkan aset orang lain yg kita jaminkan barangkali; terima itu semua dengan segala resiko.


2. Terima resiko terburuk dengan lapang dada; siap dengan resiko terburuk; cerai, dipenjara, dihina, dan sebagainya.


3. Kejar dengan shalat taubat dari dosa-dosa: syirik, ninggalin shalat (termasuk ga beres shalat wajib/sering telat dan meninggalkan shalat sunnah muakkadah), doraka sama orang tua, zina, makan rizki haram, judi, minum-minuman/obat-obatan, mutusin silaturahim, kikir, ghibah.


4. Kejar dengan shalat malam dari jam 02.30 s/d akhiri dengan shubuh berjamaah di masjid. Variasikan dengan baca al Qur'an, shalat-shalat tasbih, hajat, istighfar, yang semuanya dilakukan di malam hari.


5. Dhuha saban hari, mentokin sampe 12 rakaat/6x salam/2-2 rakaat.


6. Baca asmaa-ul husnaa yaa fattaahu yaarozzaaqu; sekurang-kurangnya 111x ba'da dhuha.


7. Minta maaf sama orang tua, mertua, istri, dan anak-anak.


8. Rapihin shalat berjamaah, qabliyah ba'diyah, dan jaga wudhu nya.


9. Baca 3 surah ini masing-masing 1x/hari: yaasin, al mulk, waaqi'ah.


10. Sedekah sisa uang dan barang.


Rapihin semua ini dalam 3hr, 7hr, 14hr, 21hr, 40hr, 100hr. Insya Allah kekejar semua hutang. Jangan ada keluhan, jangan ada pertanyaan lagi. Jalanin aja. Jangan ada bolongnya. Umpama kata nanti sampe di penjara, tambah enak tuh. Bisa konsentrasi melakukannya. Lakukan sepenuh hati. Suruh anak-anak dan istri siap-siap untuk semua perkara yang terburuk sambil memasrahkan semuanya kepada Allah. Insya Allah semua akan baik-baik saja. Kalau berkenan, jelajah isi website www.wisatahati.com, khususnya yang terkait dengan Riyadhah 40hr. Ikuti tuh dengan seksama. Jangan lupa pula berdoa di setiap awal dan akhir setiap poin di atas. Insya Allah bukan hanya bakal selesai, tapi juga bakal melesat dah jadi kaya, sukses, tawadhu', taat, dan penuh hikmah hidupnya...Insya Allah..


Sumber : Wisatahati.com




Selasa, 25 Agustus 2009

Keris Empu Iblis

Waktu saya SMA dulu, seorang ustadz saya menceritakan bahwa beliau punya seorang guru yang merupakan ulama besar di daerah Mempawah Kalimantan Barat pada masa penjajahan Belanda. Dia mempunyai seorang anak laki-laki kesayangan bernama Abdul Malik.

Suatu ketika Abdul Malik kecil jatuh sakit. Berbagai upaya pengobatan mulai yang tradisional sampai yang paling modern pada zaman itu sudah diupayakan. Bahkan, berbagai doapun sudah dipanjatkan tapi sang anak tak jua kunjung sembuh.


Suatu hari ketika keputusasaan mulai menghantui datanglah seorang tua berjenggot kepadanya menyampaikan, ”Anak kamu itu sebenarnya bisa sembuh dengan syarat kamu harus merawat keris pusaka yang ada di atas parak (semacam plafon dari kayu khas rumah melayu atau bugis di Kalimantan). Dulu leluhur kamu selalu merawatnya dengan memandikannya setiap malam Jum’at, tapi kamu sekarang melupakannya, makanya dia marah dan anak kamu menanggung akibatnya.”


Mendengar itu sang ulama ini lalu mencari keris dimaksud dan ternyata benar, keris itu tersimpan rapi di dalam peti di atas parak rumahnya. Tanpa pikir panjang diambilnya keris tersebut dan dibawanya ke pinggir sungai Mempawah lalu dilemparkannya ke sungai. Kemudian keluarlah sebuah pernyataan tauhid mengejutkan yang membuat bala tentara Iblis lari tunggang langgang, ”Kalau memang tak ada jalan lain untuk menyembuhkan si Malik kecuali dengan merawat keris ini, maka BIARLAH SI MALIK ITU MATI SAJA!! Aku tak sudi menjadi musyrik karenanya, hasbiyallah wa ni’mal wakiil (cukuplah bagiku Allah saja dan Dia adalah sebaik-baik pelindung).”


Tak berapa lama si Malik kecil sembuh, bahkan sampai kisah itu diceritakan kepada saya beliau masih hidup dan terakhir menjabat di KANWIL DEPAG Kalimantan Selatan (kalau ngak salah).

* * * * *

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah terkadang memang ada penyakit yang disebabkan oleh gangguan jin. Biasanya menimpa anak kecil atau juga orang dewasa yang mana leluhut atau kerabat orang tersebut dulunya suka memelihara jin sebagai khadam. Atau mempunyai ilmu kesaktian dan berbagai jimat.


Bisa saja orangtua berjenggot yang menemui ayah Pak Malik tadi adalah jelmaan jin pula, sebagaimana jin pernah menjelma jadi manusia untuk mencuri barang zakat fitrah seperti dalam hadits riwayat Al-Bukhari dalam shahihnya dari Abu Hurairah. Tujuannya menguji iman hamba Allah yang bersangkutan, sehingga kalau imannya goyah dan menyerah pada kemauan jin setan maka tauhidnya rusak.


Sebaliknya, bila seorang muslim tidak goyah dan menyerahkan semuanya kepada Allah, insya Allah pertolongan Allah akan datang. Kekuatan tauhid yang mukhlis akan membuat Iblis dan bala tentaranya gentar, sehingga mundur dan tak berani lagi berhadapan.

Maka hindari penggunaan benda-benda keramat, jimat, amalan kesaktian dan sejenisnya, karena pasti di belakangnya ada jin jahat, meskipun yang mengamalkan tidak mengakui.


Dan orangtua hendaknya selalu meningkatkan sikap tawakkal kepada Allah, serta memperbanyak dzikir dan beramal hanya yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Dengan begitu, tauhid akan bersih dan berbagai gangguan dari makhluk Allah baik jin, manusia, binatang maupun bencana alam akan dapat diatasi dengan pertolongan-Nya.


Salah satu dzikir yang hendaknya dibacakan kepada anak terutama yang masih kecil baik dalam keadaannya sehat maupun sedang sakit adalah:


أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ



أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ


Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala setan dan bahaya yang berbisa serta dari pandangan mata dengki yang tercela.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah, ini adalah redaksi Ibnu Majah).


Saat membaca bisa dengan memandang si anak yang sedang tidur ataupun terjaga sambil memegang anggota tubunya, misalnya kepala, atau tangan atau badan.


Semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan semua yang membaca. Amin.


oleh Anshari Taslim

sumber : eramuslim.com

Jumat, 03 Juli 2009

Mempercayai Al-Qur’an

Al-Qur'an berpandangan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Ia mengatakan bahwa percaya atau tidaknya seseorang terhadap isi al-Qur'an, semata-mata karena hidayah Allah. SWT . Hidayah diberikan bagi yang mau berpikir jernih dan berprasangka baik.


Sebagian Muslim makin percaya karena faktor-faktor eksternal, bukan hanya karena pernyataan al-Qur'an saja. Mereka berpikir begini.


Pertarma, Muhammad SAW terkenal karena kujujurannya, dapat dipercaya, dan bukan orang yang pandai membaca dan menulis. Di lain pihak, gaya bahasa al-Qur'an sangat berlainan dengan gaya bahasa Nabi ketika bertutur. Al-Qur'an selalu memakai gaya yang unik, dimulai dengan "Katakanlah", "ingatkah", "Tuhan berkata", "Mereka bertanya", dan sebagainya.


Kedua
, ada puluhan surat dan ayat yang dimulai dengan huruf-huruf Arab, yang pada awalnya tidak diketahui maknanya. Huruf sisipan atau fawatih. Huruf-huruf ini tidak ada perlunya jika "makhluk biasa" yang membuat, karena tidak dimengerti oleh pembacanya hingga berabad-abad lamanya, membuat bingung.


Ketiga, sesuatu yang menarik lainnya, bahwa nama Muhammad hanya empat kali disebut dalam al­Qur an. Nama Adam as dan Isa as jauh lebih banyak disebut. Mereka disebut oleh al-Qur'an masing-masing 25 kali. Bahkan nama Musa as paling banyak disebut.


Keempat, cerita atau ung­kapan sejarah serupa dengan cerita dalam kitab suci lainnya, namun sangat berbeda dalam detail dan maknanya. Beberapa kisah masa lalu, bahkan tidak ditemukan dalam kitab Yahudi atau Bibel. Seperti kisah bangsa Tsamud, Ad, kota Iram, dialog antara Nuh as dengan puteranya sebelum banjir terjadi, dan "percakapan semut yang didengar Sulaiman as".


Kelima, seruan al-Qur'an bukan saja ditujukan kepada semua manusia (di bumi dan langit--planet dan alam lainnya), tetapi juga golongan jin (beserta seluruh rasnya, seperti setan, iblis, ifrit, dan makhluk asing yang belum diketahui manusia). Ayat-ayat ini tidak ada perlunya bila "makhluk biasa" yang membuat, apa manfaat­nya?


Keenam, rincian tentang malaikat, jin, penciptaan (banyak) alam semesta dan (banyak) bumi, fenomena ilmiah, di mana pengetahuan manusia belum atau baru saja mengetahui.

Ketujuh, struktur kodetifikasi yang ditemukan dalam al-Qur'an, di mana ia mengatakan untuk menambah keimanan bagi orang yang beriman dan membuat tidak ragu bagi pembaca Kitab ini (al-Muddatstsir 74 : 30).


Beberapa faktor tersebut menyebabkan sebagian kaum Muslim makin percaya bahwa al-Qur'an tidak mungkin dibuat oleh makhluk biasa, baik manusia mau­pun jin. Kita juga harus ingat, kaum Muslim lainnya, yang bukan Islam karena "dilahirkan"-Islam karena "pindah agama atau mendapatkan agama", mereka mempunyai alasan yang Iebih spesifik.


Sumber : Arifin Muftie (Matematika Alam Semesta)




Kamis, 02 Juli 2009

Venus

Disaat Subuh saya takjub melihat langit kearah timur, tepatnya pada tanggal 20 Juni 2009 sekitar pukul 04.58 WIB, terlihat pemandangan yang sangat indah, yaitu penampakan Bulan sabit di temani dua buah sinar bintang yang terang dan jelas, dan pad saat saya melihat lebih keatas terlihat juga sebuah sinar bintang yang terang.

Penasaran dengan fenomena tersebut saya mencari tahu dengan menggunakan softwear Stellarium agar dapat mendapat info lebih detail tentang sinar-sinar bintang tersebut, dan akhirnya saya tahu bahwa dua sinar bintang yang mendampingi Bulan adalah cahaya dari pelanet Venus yang paling terang dan cahaya dari pelanet Mars yang lebih kecil cahayanya,



dan cahaya yang diatas saya merupakan cahaya Pelanet Jupiter.




Sungguh pemandangan yang menakjubkan, Maha besar Allah SWT dengan segala ciptaan Nya


Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.

Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

[Al-A’raff,54]


Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya),

[Al-Hijr,16]


Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),

[An-Nahl,2]


Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan

Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

[Al-Furqan,61]


Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan,yaitu bintang-bintang,

[Ash-shafaat,6]




KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA

Kata dhuha yang mengiringi sholat sunnah ini berarti terbit atau naiknya matahari. Wajar bila sholat ini, kemudian, dilakukan pada pagi hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Namun, beberapa ulama fikh berbeda pendapat tentang ketentuan waktunya.

Imam Nawawi di dalam kitab ar-Raudah mengatakan bahwa waktu sholat dhuha itu dimulai, sejak terbitnya matahari, yakni sekitar setinggi lembing (lebih kurang 18 derajat). Sementara Abdul Karim bin Muhammad ar-Rifai, seorang ahli fikih bermazhab Syafi'i berkomentar bahwa sholat itu lebih utama bila dikerjakan saat matahari lebih tinggi dari itu

Waktu shalat Dhuha dari mulai meningginya matahari satu tombak hingga sebelum matahari berada di tengah langit, sebelum tergelincir. Yang paling afdhal, melakukan shalat itu ketika matahari sedang terik menyengat. Dasarnya adalah hadits Zaid bin Arqam Radhiyallahu 'anhu yang menceritakan bahwa Nabi bersabda.

"Artinya : Shalat orang-orang yang khusu' beribadah adalah pada waktu
anak-anak unta (fishal) kepanasan" [Tarmidhul Fishal, yaitu disaat terik panas tiba sehingga anak unta merasa kepanasan kakinya, lihat Syarah An-Nawawi atas Shahih Muslim 6/276]

Dalam lafazh lain disebutkan.

"Artinya : Shalat orang-orang yang khusu beribadah adalah ketika anak-anak unta (fishal) kepanasan" [Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalat Al-Musafirin, bab Shalat Al-Awwabin hina Tarmidhul Fishal no. 748]

Barangsiapa yang melakukan shalat itu setelah matahari meninggi hingga satu tombak, tidak mengapa. Namun barangsiapa yang melakukannya ketika panas terik sebelum waktu yang dilarang shalat, itu lebih afdhal. [Lihat Majmu Fatawa Ibni baz 11/395]

Dalam beberapa Hadist dari Sahabat Abu Huraira ra antara lain sebagai berikut :

“ Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng, akan di

ampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan. “

( HR Tirmidzi )

“ Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, maka tatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : “ Siapakah orang yang suka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamu sekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT. “ ( HR Thabrani )

“ Di perintahkan kepadaku oleh kekasihku Nabi SAW untuk berpuasa 3 (tiga) hari pada tiap-tiap bulan, mengerjakan 2 ( dua ) rakaat Shalat Sunnat Dhuha, dan supaya saya berwitir sebelum tidur.” ( HR Bukhari dan Muslim)

“ Tuhanmu yang Maha Tinggi telah berseru : “ Hai anak Adam ! Shalatlah empat rakaat bagi Aku dari awal siang. Maka Aku akan cukupkan engkau di akhir siang itu”. ( HR Ahmad dan Abu Daud )

Dari Aisyah ra, ia berkata :“ Adalah Rosulullah SAW biasa Shalat Dhuha 4 (empat) rakaat dan ia menambah ( sebanyak mungkin ) menurut apa yang dikehendaki Allah SWT.” (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah )

Dari Ummu Hani diceritakan sesungguhnya ia pernah datang kepada Nabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ke tempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambil pakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 (delapan) rakaat, yaitu Shalat Dhuha. ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )

Adapun keutamaan ( fadhilah ) Shalat Sunnat Dhuha perhatikan Hadist-Hadist Rosulullah SAW seperti berikut :

“ Pada tiap pagi dianjurkan atas diri seseorang dari kamu untuk bersedekah. Maka tiap-tiap tasbih itu sedekah dan tiap-tiap tahmid (puji) itu sedekah. Pada tiap-tiap tahlil pun sedekah dan tiap-tiap menyuruh kepada kebaikan itu juga sedekah. Begitu pula mencegah kemungkaran itu sedekah. Namun diantara semua itu cukuplah sebagai penggantinya ialah mengerjakan dua rakaat Dhuha. “(HR Muslim dan Abu Dzar)

Dari Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda “ Dalam diri manusia itu ada 360 ( Tiga Ratus Enam Puluh ) ruas yang setiap darinya diharuskan bersedekah. Para Sahabat bertanya : Kalau begitu, siapa yang mampu berbuat demikian ya Rosulullah ? Rosulullah SAW menjawab: “Mengeluarkan dahak di Masjid lalu ditanamnya atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari jalan, itu juga sedekah. Tetapi kalau engkau tidak bisa, kerjakanlah dua rakaat Dhuha. Karena itu mencukupi dari semua itu “ ( HR Ahmad dan Abu Daud )

Rakaat Sholat Dhuha:

Sholat dhuha merupakan sholat yang tidak menyusahkan untuk dikerjakan. Sebab, pasalnya sholat dhuha itu menyesuaikan kemampuan dan kesempatan muslim yang hendak mengamalkannya. Poin ini tergambar dengan jelas pada bilangan raka'atnya. Mulai dari 2 raka'at, 4 raka'at, 8 raka'at hingga 12 raka'at.

Sayid Sabiq, ahli fikih dari Mesir, menyimpulkan bahwa batas minimal sholat dhuha itu 2 raka'at sedangkan batas maksimalnya adalah delapan raka'at. Pada ketentuan minimal dapat ditemukan pada hadits riwayat Abu Hurairah. Sementara ketentuan maksimal dapat ditemukan pada hadits fi'li ( perbuatan ) yang diriwayatkan Aisyah,r.q, " Rasulullah SAW, masuk kerumah saya lalu melakukan sholat dhuha sebanyak delapan raka'at." ( H.R. Ibnu Hiban )


Bahkan lebih dari itu, menurut ulama mazhab Hanafi jumlah maksimal raka'at sholat dhuha itu enam belas raka'at . Sedang Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Tabari, pengarang kitab Tafsir Jami al-Bayan, sebagian ulama mazhab Syafi'i dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berpendapat bahwa tidak ada batas maksimal untuk jumlah raka'at sholat dhuha. Semuanya tergantung pada kemampuan dan kesanggupan orang yang ingin mengerjakannya. Wallahu'alam bil shawab. ( Muaz/Hidayah).

Menurut Ustd Yusuf Mansur dalam salah satu ceramahnya menyebutkan:

2 Raka'at : Allah Ta'ala akan catat bukan dari golongan orang yang lalai.

4 Raka'at : Allah Ta'ala akan catat sebagai orang yang ahli ibadah.

6 Raka'at : Allah Ta'ala akan mencukupi kebutuhan dia pada hari itu.

8 Raka'at : Allah Ta'ala akan catat sebagai orang ta'at.

12 Raka'at : Allah Ta'ala akan buatkan rumah untuk dia di Surga.

Syaratnya : Ikhlas dan Istiqomah karena Allah

Begitu banyak fadhilah, keutamaan Shalat Sunnat Dhuha, seyogyanya sebagai muslim yang baik tergerak hati kita untuk mengerjakan ( mengamalkan ) Shalat Sunnat Dhuha. Betapa tidak, kapan lagi kita akan mendapatkan kesempatan untuk meraih, menggapai pahala untuk bekal akhirat kita ?

Cara mengerjakan Shalat Dhuha.

1. Niat Shalat Dhuha :

"Ushalli sunnatal Dhuha rakataini lillahi Ta'aalaa"

Artinya : aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah

2. Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah :

A. Pada rakaat pertama surat Asy-Syams.



waalsysyamsi wadhuhaahaa waalqamari idzaa talaahaa, waalnnahaari idzaa jallaahaa, waallayli idzaa yaghsyaahaa {1579}, waalssamaa-i wamaa banaahaa, waal-ardhi wamaa thahaahaa, wanafsin wamaa sawwaahaa, fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa. qad aflaha man zakkaahaa, waqad khaaba man dassaahaa. kadzdzabat tsamuudu bithaghwaahaa, idzi inba'atsa asyqaahaa, faqaala lahum rasuulu allaahi naaqata allaahi wasuqyaahaa. fakadzdzabuuhu fa'aqaruuhaa fadamdama 'alayhim rabbuhum bidzanbihim fasawwaahaa, walaa yakhaafu 'uqbaahaa

1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,

2. Dan bulan apabila mengiringinya,

3. Dan siang apabila menampakkannya,

4. Dan malam apabila menutupinya[1579],

5. Dan langit serta pembinaannya,

6. Dan bumi serta penghamparannya,

7. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),

8. Maka allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

10. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

11. (kaum) tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,

12. Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,

13. Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya".

14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah),

15. Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

[1579] Maksudnya: malam-malam yang gelap.

B. Pada rakaat kedua surat Adh-Dhuha.

waaldhdhuhaa, waallayli idzaa sajaa, maa wadda'aka rabbuka wamaa qalaa {1581}. walal-aakhiratu khayrun laka mina al-uulaa{1582}. walasawfa yu'thiika rabbuka fatardaa. alam yajidka yatiiman faaawaa wawajadaka daallan fahadaa {1583},. wawajadaka 'aa-ilan fa-aghnaa. fa-ammaa alyatiima falaa taqhar. wa-ammaa alssaa-ila falaa tanhar. wa-ammaa bini'mati rabbika fahaddits

1. Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

2. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),

3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu[1581].

4. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)[1582].

5. Dan kelak tuhanmu pasti memberikan karunia-nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.

6. Bukankah dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?

7. Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], lalu dia memberikan petunjuk.

8. Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.

9. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

10.Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.

11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.

[1581] Maksudnya: ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. terhenti untuk Sementara waktu, orang-orang musyrik berkata: "Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadaNya". Maka turunlah ayat ini untuk membantah Perkataan orang-orang musyrik itu.

[1582] Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.

[1583] Yang dimaksud dengan bingung di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad s.a.w. sebagai jalan untuk memimpin ummat menuju keselamatan dunia dan akhirat.

3. Selesai shalat, membaca do’a sebagai berikut :


ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.

Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha itu adalah waktuMU,

dan keagungan itu adalah keagunganMU,

dan keindahan itu adalah keindahanMU,

dan kekuatan itu adalah kekuatanMU,

dan perlindungan itu adalah perlindunganMU,

Ya Allah, jika rizkiku masih ! di atas langit, maka turunkanlah,

jika masih di dalam bumi, maka keluarkanlah,

jika masih sukar, maka mudahkanlah,

jika (ternyata) haram, maka sucikanlah,

jika masih jauh, maka dekatkanlah,

Berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMU,

limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada

hamba-hambaMU yang sholeh.

Amiin Ya Robbal Alamiin.


Semoga bermanfaat bagi kita semua


Sumber : pencerahan.blogspot.com;orido.wordpress.com;kangsata.wordpress.com;

riskaonline.org.4243.masterweb.net; quran.al-islam.com; quran.myquran.org

Rabu, 01 Juli 2009

Bersyukur,Berbagi dan Jangan Berlebihan

Saat melihat posting di "Sedekah.net" tentang keadaan di belahan dunia lain yang sangat kelaparan dan memprihatinkan membuat saya berfikir betapa beruntungnya kita, dan mudah-mudahan hal ini tidak terjadi di negeri kita maupun ditempat lainnya, semoga kita dapat belajar menghargai nikmat yang kita dapatkan dan menjadikan kita lebih bersyukur dan lebih memperhatikan keadaan disekitar kita dengan tidak berbuat sesuatu yang berlebihan,


"Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya)

dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin),

supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?"

(Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?"

[Al An'aam' , ayat 53 ]


Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya);

dan janganlah kamu berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

[Al-An'aam, Ayat, 141]


Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.

Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi

. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

[Ali 'Imran , ayat 180]


Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

[Al-A’raaf ayat,ayat 31]

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.

Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan mendaki lagi sukar?.

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?

(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,

atau memberi makan pada hari kelaparan,

(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,

atau orang miskin yang sangat fakir.

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.

Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.

[Al-Balad, ayat 10-19]


Di tempat lain mungkin makanan yang sering kita anggap remeh mungkin sangat berarti untuk mereka, maka dari itu cobalah untuk tidak berlebihan, ambilah secukupnya dan kalau berlebih berbagilah kepada sesama..


Gambar-bambar berikut di abadikan oleh Photografer Kevin Carter ( Pemenang Pulitzer 1994 )




"I felt very fortunate to live in this part of the world. I promise I will never waste my food no matter how bad it can taste and how full I may be. I promise not to waste water. I pray that this little boy be alleviated from his suffering."




"I pray that we will be more sensitive towards the suffering in the world around us and not be blinded by our own selfish nature and interests. I hope this picture will always serve as a reminder to us about how fortunate we are and that we must never ever take things for granted."



" Think & look at this...when you complain about your food and the food we waste daily..."

"MAY ALL BEINGS BE FREE FROM SUFFERING!!!! "

" PULITZER PRIZE " winning photo taken in 1994 during the Sudan famine. The picture depicts a famine stricken child crawling towards an United Nations food camp, located a kilometer away. The vulture is waiting for the child to die so that it can eat it. This picture shocked the whole world. No one knows what happened to the child, including the photographer Kevin Carter who left the place as soon as the photograph was taken.
Three months later he committed suicide due to depression.


Begitu mengenaskan keadaan tersebut, mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmahnya..

Sumber : Sedekah.net




Kamis, 28 Mei 2009

Keutamaan Menahan Marah

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

Orang yang mampu menahan marah lebih baik dan lebih sempurna daripada orang yang suka marah (pemarah). Dan itulah yang disebut orang kuat. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda:“Siapa yang dikatakan paling kuat di antara kalian? Sahabat menjawab: yaitu di antara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda: Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)

Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan) Al Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:“Tidaklah hamba meneguk tegukan yang lebih utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dari meneguk kemarahan karena mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Hadits shahih riwayat Ahmad) Al Imam Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari sahabat Nabi, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:“Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan) Hadits-hadits ini menerangkan keutamaan menahan marah dari pada orang yang mudah marah/pemarah. Dari itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiat kepada sahabat ketika datang pada beliau untuk meminta wasiat, beliau bersabda dengan diulang-ulang: “Jangan mudah marah..” Lengkap haditsnya adalah sebagai berikut:“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam: Berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda: Jangan menjadi seorang pemarah. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda: Janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Al Bukhari) Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari sahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata: “ Aku berkata: Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda: jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang: maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan.” (HR. Imam Ahmad) Berkata Ibnu Ja’far bin Muhammad rahimahullah: “Marah itu pintu seluruh kejelekan.” Al Imam Ahmad menafsirkan hadits ini dengan mengatakan: akhlak yang mulia itu dengan meninggalkan sifat pemarah. Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan maksud hadits ini dengan mengatakan: sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam: “Jangan menjadi pemarah.” Ini mengandung dua kemungkinan maksud:

1. Hadits ini mengandung perintah melakukan sebab-sebab yang menjadikan akhlak yang mulia seperti bersikap lembut, pemalu, tidak suka mengganggu, pemaaf, tidak mudah marah.

2. Hadits ini mengandung larangan melakukan hal-hal yang menyebabkan kemarahan, mengandung perintah agar sekuat tenaga menahan marah ketika timbul/berhadapan dengan penyebabnya sehingga dengan demikian dia akan terhindar dari efek negatif sifat pemarah.

Sehingga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari efek negatifnya, di antaranya adalah:

1. Membaca ta’awudz ketika marah.Al Imam Al Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod radhiyallahu ‘anhu:“Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan: ‘Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi: Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab: Aku ini bukan orang gila.”

2. Dengan dudukApabila dengan ta’awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda:“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

3. Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.Dalam hadits disebutkan:“Apabila di antara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

4. Berwudhu, sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bias diredam dengan berwudhu.Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila di antara kalian marah berwudhulah.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)Adapun pemicu kemarahan ada empat, barangsiapa yang mampu mengendalikan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dijaga dari syetan dan diselamatkan dari neraka.

Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah:“Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharomkan dari neraka: yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.”

Empat hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya.

1. Keinginan, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini mendatangkan manfaat pada dirinya, seringnya orang yang tidak mampu menguasai nafsu akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan keinginannya itu dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom, dan terkadang yang diinginkan juga berupa sesuatu yang haram.

2. Cemas, adalah rasa takut dari sesuatu. Orang yang cemas akan berupaya untuk menolaknya dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom seperti meminta perlindungan kepada selain Allah.

3. Syahwat, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini dapat memuaskan nafsunya. Seringnya orang yang kalah dengan nafsunya memuaskan nafsu syahwatnya itu pada sesuatu yang haram seperti zina, mencuri, minum khamer bahkan pada sesuatu yang menyebabkan kekufuran, kebid’ahan dan kemunafikan.

4. Marah, adalah gelagaknya darah hati untuk menolak gangguan sebelum terjadi atau untuk membalas gangguan yang sudah terjadi. Kemarahan seringnya dilakukan dalam bentuk perbuatan yang diharamkan seperti pembunuhan, pemukulan dan berbagai kejahatan yang melampaui batas. Terkadang dalam bentuk perkataan yang diharamkan seperti tuduhan palsu, mencela dan perkataan keji lainnya dan terkadang meningkat sampai pada perkataan kufur.Tetapi tidak semua kemarahan itu tercela, ada yang terpuji, bahkan sampai pada tingkatan harus marah yaitu ketika kita melihat agama Allah direndahkan dan dihinakan, maka kita harus marah karena Allah terhadap pelakunya. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah maka Beliau tidak diam. Beliau marah dan berbicara.Ketika Nabi Shalallahu alaihi wasallam melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar makhluk hidupnya (yaitu gambar kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan bersabda:“Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang membuat gambar seperti gambar ini.” (HR. Al Bukhari Muslim)

Nabi Shalallahu alaihi wasallam juga marah terhadap seorang sahabat yang menjadi imam shalat dan terlalu panjang bacaannya dan beliau memerintahkan untuk meringankannya. Tetapi Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah karena pribadinya. Al Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Anas radhiyallahu anhu:“Anas membantu rumah tangga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam selama sepuluh tahun, maka tidak pernah beliau berkata kepada Anas: “Ah”, sama sekali. Beliau tidak berkata terhadap apa yang dikerjakan Anas: “Mengapa kamu berbuat ini?!” Dan terhadap apa yang tidak dikerjakan Anas,”Tidakkah kamu berbuat begini.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Begitulah keadaan beliau senantiasa berada di atas kebenaran baik ketika marah maupun ketika dalam keadaan ridha/tidak marah. Dan demikianlah semestinya setiap kita selalu di atas kebenaran ketika ridha dan ketika marah. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: artinya:“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha.” (Hadits shahih riwayat Nasa’i)

Al Imam Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan hadits Anas:“Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu: Orang yang jika marah kemarahannya tidak memasukkan ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.”Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu dan syahwatnya menyeret kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran.

Sumber: ahlussunnah-bangka.com